Berita

Tahun Baru Tanpa Resolusi

𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗕𝗮𝗿𝘂 𝘁𝗮𝗻𝗽𝗮 𝗥𝗲𝘀𝗼𝗹𝘂𝘀𝗶
𝘛𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘣𝘢𝘳𝘶, 𝘵𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘙𝘦𝘴𝘰𝘭𝘶𝘴𝘪.

Sebelum memulai, kita pahami dulu apa itu sebenarnya Resolusi? Apakah Resolusi yang mengukur tingkat ketajaman suatu gambar pada monitor? atau Resolusi sebagai tindakan memisahkan materi seperti senyawa kimia atau sumber radiasi elektromagnetik ke dalam penyusunnya? 

Semua pengertian itu tak ada yang salah. Namun kali ini, pengertian Resolusi yang kerap kali disebut katanya tiap menjelang pergantian tahun.

Resolusi merupakan suatu janji, harapan, atau tuntutan untuk melakukan sesuatu. Resolusi sering dimaknai sebagai keputusan atau rencana yang dibuat seseorang untuk memperbaiki diri di  masa mendatang. Ia hadir sebagai simbol harapan—tentang menjadi lebih baik, disiplin, dan siap menghadapi hari-hari ke depan.

Dan saat pergantian tahun, kalender baru dianggap sebagai titik awal yang menuntut perubahan, seolah setiap orang harus melangkah dengan daftar target yang jelas. Namun, di balik makna tersebut, tidak semua orang berada pada kondisi yang sama. Ada yang menyambut tahun baru dengan semangat, ada pula yang masih berusaha menyelesaikan apa yang telah mereka mulai di tahun sebelumnya. Itu semua terjadi di balik euforia kembang api dan ucapan selamat tahun baru yang bertebaran kesana kemari. Bukan karena mereka tak punya tujuan, melainkan bagi mereka…memaksakan resolusi justru terasa tidak jujur.

Resolusi sering kali berubah menjadi standar sosial. Tanpa disadari, ada tekanan dibalik itu semua, tekanan untuk menunjukkan bahwa seseorang telah menyiapkan rencana besar untuk setahun ke depan. Seolah-olah tanpa resolusi, seseorang dianggap tidak memiliki arah atau semangat. Padahal, apa kalian tahu fakta yang sebenarnya? 

Setiap orang menjalani ritme kehidupan yang berbeda, tidak semua orang usai dengan tahun sebelumnya, tidak semua luka atau lelah bisa sembuh hanya karena perubahan angka. Tahun tanpa resolusi bukan berarti menolak perubahan. Justru sebaliknya, pilihan tersebut dapat menjadi gambaran bahwa perubahan membutuhkan waktu, proses yang sayangnya tak semua bisa dipercepat hanya demi memenuhi ekspetasi sosial. Ada orang yang masih belajar bertahan, memperbaiki diri perlahan, dan tak selalu bisa dirangkum dalam daftar perubahan.

Dalam konteks kehidupan siswa, hal ini semakin relevan. Awal tahun sering bertepatan dengan tekanan akademik, tuntutan prestasi, dan harapan “lebih baik” yang katanya menanti. Nilai tanpa celah, pencapaian harus bertambah, dan masa depan dituntut harus indah. Di tengah kegelisahan itu, tidak sedikit siswa yang sebenarnya masih lelah oleh proses panjang yang mereka lalui. Tahun baru datang, tetapi beban lama masih terbayang.

Tahun baru tanpa resolusi dapat dimaknai sebagai ruang jeda. Jeda untuk bernapas, mengevaluasi perlahan, dan menerima bahwa kemajuan tak harus terlihat besar. Alih-alih memaknai tahun baru sebagai kewajiban untuk berubah, mungkin sudah saatnya melihat sebagai kesempatan untuk lebih memahami diri, bahwa tak semua proses perlu diumumkan, dan tak semua tujuan harus ditulis sebagai awalan. Karena sebagian perjalanan cukup dijalani dengan kesadaran dan konsistensi yang sering luput dari sorotan. Pada akhirnya, tahun baru tidak selalu tentang memulai sesuatu yang benar-benar baru. Tapi juga melanjutkan proses yang belum selesai—dengan cara jujur pada diri dan menyadari bahwa hasil takkan ada artinya tanpa proses. 

Akhir kata. Semoga di Tahun ini, kita dapat memulai hal baru dan menyelesaikan apa yang telah dimulai di tahun sebelumnya. 
#smknegeri69jakarta
#smkn69jkt
#smkbisasmkhebat